Selasa, 31 Desember 2013

Penyerahan Raport An-Najah I Siswa diminta Tingkatkan Prestasi



Setelah menyelesaikan proses belajar mengajar selama satu semester gasal untuk tahun pelajaran 2013-2014, kini tiba saatnya bagi para siswa melihat hasil belajar mereka dalam bentuk buku Laporan Penilaian Hasil Belajar (raport). Buku kecil itu merupakan rekam jejak hasil belajar siswa selama duduk dibangku madrasah, mulai dari MI An-Najah I, MTs.An-Najah I  hingga Sekolah Madrasah Aliyah An-Najah I yang telah selesai melaksanakan acara tersebut. Setiap siswa tentu menginginkan hasil belajarnya bagus, minimal diatas kriteria ketuntasan minimal (KKM) kalau tidak mau disebut  raportnya “panen cabe”. Malah mereka tentu berharap mendapat peringkat terbaik di kelasnya masing-masing, kalau bisa  peringkat satu tingkat madrasah.
Demikian juga dengan siswa MTs. An-Najah I yang telah melaksanakan penyerahan raport pada hari senin 30 Desember 2013 bertempat di halaman MTs. An-Najah I. dalam sambutannya kepala MTs. An-Najah I Muhammad Imam, S.Ag. meminta kepada semua siswa MTs. untuk tetap semangat mengikuti kegiatan belajar mengajar(KBM) terutama menghadapi kurikulum 2013. “Raport yang akan kalian terima merupakan hasil belajar selama semester ganjil, dan hasilnya bisa dilihat sendiri yang sesaat lagi akan disampaikan oleh wali kelas masing-masing”, tuturnya. Lebih lanjut imam sapaan akrapnya juga menyampaikan terima kasih kepada semua panitia pelaksana Program Class Meting yang telah menguras waktu dan tenaga untuk mengsukseskan acara tersebut utamanya kepada PKM Kesiswaan. Dan seperti halnya perlombaan, hasil belajar siswa tentu tidak ada yang sama karena tingkat intelensia yang berbeda, cara belajar yang berbeda, motivasi yang berbeda, dan dukungan orang tua dan lingkungan yang berbeda.
Satu hari kemudian tepatnya di penghujung tahun 2013, Selasa 31 Desember 2013 MA An-Najah I dan MI An-Najah I menggelar acara yang sama. MA An-Najah I digelar di aula MA An-Najah I lt.II dengan mengumpulkan seluruh siswa-siswi dan dewan guru. sementara MI An-Najah I mengumpulkan walinya dan mengambil tempat di aula MI yang baru. Sementara Kepala Madrasah An-Najah I Moh. Shobri, S.Pd.I dalam sambutannya pada acara Penyerahan Hadiah Juara Class Meeting dan Juara Umum Penilaian Hasil Belajar mengatakan bahwa hasil belajar ini bisa kita jadikan pedoman untuk memperbaiki pencapaian yang telah diraih, bagi yang nilainya tidak memuaskan akan menjadi pendorong agar mau belajar lebih giat lagi untuk memperoleh hasil yang lebih baik, sedangkan untuk siswa yang meraih nilai bagus janganlah merasa puas dan berbangga diri dengan hasil yang telah diperolehnya, sebab mempertahankan apa yang sudah diperoleh jauh lebih sulit dibandingkan dengan meraihnya.“Buku Laporan Penilaian Hasil Belajar yang akan kalian terima nanti merupakan hasil kerja keras kalian selama ini, yang belajar dengan sungguh-sungguh tentu akan memetik hasilnya, sedangkan yang malas belajar tentu akan menerima akibatnya. Dengan melihat hasil belajar kalian selama satu semester ini kalian bisa menjadikannya pendorong untuk memperoleh hasil yang lebih baik lagi. Yang memperoleh nilai bagus janganlah merasa sombong dan berpuas diri, teruslah belajar untuk mempertahankan prestasi. Yang nilainya jelek, janganlah berkecil hati, kesempatan masih ada selagi kalian mau memperbaiki diri,” ungkap Shobri saat menyampaikan sambutannya.
Mendung tebal yang diikuti rintik hujan di pagi hari tidak membuat ibu wali MI An-Najah I kehilangan semangat untuk mengahadiri acara penyerahan raport, seperti yang dituturkan oleh Basyirah pada blog ini, ketika ditanya “mak apulabbu bi”? area terro taoa nilaia jebbinga cong. tutur ibu dua anak yang juga istri dari salah satu guru senior An-Najah I bapak Mufti Zain. Pada acara yang berlangsung segitar jam 08.00 kepala MI An-Najah I Azizan, S.Pd.I dalam sambutannya menekankan pada tiga hal; pertama meminta dukungan wali dalam hal meningkatkan belajar siswa dirumah karna disinyalir rata-rata wali masih banyak yang kurang perhatian terhadap belajar siswa. Kedua performance siswa dalam hal kedisiplinan dan kerapian. Tiga wali juga di minta untuk memikirkan terhadap kondisi fisik madrasah yang masih dalam proses penyelesaian. “Ya masih banyak yang kurang perhatian terhadap anaknya sendiri” ungkapnya.
Pada acara pembacaan rangking  kelas MTs. An-Najah I yang dibacakan di Halaman madrasah tersebut seluruh siswa hening mendengarkan kemudian bersorak gembira kala namanya disebutkan. Dari 214 siswa yang terbagi kedalam 9 rombel, ternyata siswa kelas VIIA atas nama Zainul Firdaus  berhasil mengalahkan kakak-kakak kelasnya dengan nilai rata-rata 89,23 sebagai juara umum pertama. Semetara di MA Aliyah An-Najah I juara umum diraih oleh Faridatul Hasanah kelas XII dengan nilai rata-rata 80,5.  Di MI An-Najah I diraih oleh anak yang bernama Salma siswi kelas V Sunan kali Jaga dengan nilai rata-rata 90,48.  Hadiah berupa bingkisan dan piagam diserahkan langsung oleh Kepala Madrasah masing-masing.(as)

Foto Dokumen Lainnya:







Rabu, 11 Desember 2013

TRIO KEPALA MADRASAH AN-NAJAH I SIAP LAKSANAKAN KURIKULUM 2013




Azizan, S.Pd.I Kepala MI An-Najah I
Muhammad Imam, S.Ag. Kepala MTs. An-Najah I
Moh. Shobri, S.Pd.I Kepala MA An-Najah I
Selama empat hari tiga kepala Madrasah di bawah naungan Yayasan An-Najah I, masing-masing kepala MI An-Najah I  Azizan, S.Pd.I, Kepala MTs. An-Najah I Muhammad Imam, S.Ag. dan Kepala MA An-Najah I Moh. Shobri, S.Pd.I mengikuti bimbingan teknis kurikulum 2013 di hotel utami Sumenep.  Penerapan Kurikulum 2013 untuk Implementasinya pada madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), dan madrasah aliyah kejuruan (MAK) dilakukan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2013/2014. Implementasi kurikulum pada MI, MTs, MA, dan MAK menggunakan pedoman implementasi kurikulum yang mencakup:

1.   Pedoman Penyusunan dan Pengelolaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan;
2.   Pedoman Pengembangan Muatan Lokal;
3.   Pedoman Kegiatan Ekstrakurikuler;
4.   Pedoman Umum Pembelajaran; dan
5.   Pedoman Evaluasi Kurikulum.
Implementasi kurikulum sebagaimana pedoman diatas betu-betul akan diterapkan di Yayasan An-Najah I Karduluk, hal ini di sampaikan oleh kepala MTs. An-Najah I melalui PKM kurikulumnya Sahuri, M.Pd.I pada blog ini, bahkan dalam waktu dekat para kepala Madrasah yang ikut pelatihan siap menjadi tutor sebaya untuk melakukan bimbingan dan pelatihan kepada seluruh dewan guru di bawah naungan Yayasan An-Najah I. “Hanya saja ini semua bisa terlaksana kalau segala sesuatunya di tanggung Yayasan. Ya termasuk akomodasi dan fasilitas lainnya, ya kami siap melakukan bimbingan sesuai dengan kemampuan dan pengalaman yang kami peroleh dari pelatihan’’ ujarnya. Sementara pihak Yayasan ketika di konfirmasi melalui sekretarisnya Asis, S.H.I, M.Pd.I menyetujui usulan tersebut bahkan menurut alumni Pasca Sarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya yang sekarang sudah berubah status menjadi UIN SAS ini, keinginan untuk mengadakan bimbingan dan pelatihan kurikulum 2013 sudah direncanakan sejak lahirnya Permendikbud RI Nomor 81A Tahun 2013 Tentang Implementasi kurikulum 2013, tetapi masih kesulitan untuk mencari tutor dan pembinanya. Nah sekarang karna para kepala madrasah sudah di latih dan dibimbing selama empat hari maka ini harus bisa dimanfaatkan untuk bisa mengetuk-tularkan ilmu-ilmu yang didapat selama pelatihan berkenaan dengan penerapan kurikulum 2013 kepada semua guru dibawah naungan Yayasan An-Najah I. Terpisah ketua umum Yayasan An-Najah I K.H. Abd. Wasik Bahar mengamini rencana tersebut. Bahkan menurutnya dalam waktu yang tidak lama lagi beliau juga punya keinginan untuk mengumpulkan seluruh dewan guru dibawah naungan Yayasan An-Najah I baik yang sudah tersertifikasi maupun yang belum tersertifikasi terkait dengan tugas dan kewajiban guru yang akan dikemas dalam acara Silaturrahmi Dewan Guru dan Bimbingan Teknis Kurikulum 2013(as).

Kamis, 05 Desember 2013

Kunjungan Kerja Presiden RI di Sambut Ribuan Pelajar





Kabupaten Sumenep daerah paling timur pulau Madura, kedatangan tamu kehormatan tepatnya pada hari Rabu tanggal 4 Desember 2013 yakni Prsediden RI Susilo Bambang Yudhoyono. Kedatangan Presiden ke 6 disambut ribuan pelajar dan masyarakat yang ingin melihat dari jarak dekat dengan orang nomor wahid di negeri ini. Tak ketinggalan ratusan siswa dan siswi Lembaga Pendidikan Islam Yayasan An-Najah I turut serta turun jalan dengan membentuk barisan memanjang kesamping dengan memegang bedera merah putih dengan ukuran kecil sambil dilambaikan untuk memberikan salam kehormatan dan ada juga yang hanya melambaikan tangan dan yel-yel hidup presiden, hidup presiden di sepanjang jalan raya tepatnya di depan Yayasan An-Najah I.

Siswi Maadarasah Aliyah An-Najah I melambaikan bendera merah putih
Mereka seakan tidak terasa walaupun menunggu lama di pinggir jalan raya karna menurut informasi bahwa rombongan Presiden akan melintas didepan LPI An-Najah I sekitar pukul 13.30, tetapi molor sampai dengan pukul 15.45 baru melintas.
Kunjungan Presiden ke Kabupaten Sumenep ini di prediksi hanya kunjungan yang pertama sekaligus yang terakhir selama menjabat sebagai Presiden RI. Oleh karnanya moment ini betul-betul di manfaatkan oleh masyarakat dan pelajar di Kabupaten Sumenep khususnya oleh ratusan pelajar LPI An-Najah I. Fathonah salah seorang siswi MA An-Najah I menuturkan perasaan haru dan bahagia karna bisa melihat langsung dari jarak yang paling dekat dengan Presiden. ‘’terus terang saya haru pak bisa melihat presiden kita, walaupun hanya melihat dalam beberapa detik saja itu sudah puas’’ tuturnya pada blog ini.
Fatonah dan Muflihah di depan gedung MA An-Najah I
Hal senada juga di ungkapkan oleh Muflihatul Khoiriyah yang juga mengungkapkan perasaan senang, Siswi yang juga duduk di bangku kelas XI ini menuturkan pada blog ini bahwa momen ini tidak akan datang untuk yang keduakalinya oleh karnanya menurut siswi yang juga pengurus OSIS MA ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. ‘ya ini kesempatan pak saya senang walau hanya sebentar”.
Kehadiran Presiden RI yang mengendari mobil Mercedes bernopol INDONESIA didampingi oleh ibu Negara Ani Yudoyono, juga didampingi pejabat Pemerintah Provinsi Sokarwo beserta ibu Nina Karwo.  Sejumlah mentri pun juga ikut dalam rombongan tersebut seperti mensesneg Sudi Silalahi, Mendikbud Mohammad Nuh dan menteri yang lain yang tidak tampak dalam kaca mobil yang ditumpanginya. Maneger Persepam Madura Ahsanul Qosasi tampak juga dalam iring-iringan rombongan Presiden. Menurut Patmasari sisi kelas VIII MTs. Baha mobil pengiring presiden berjumlah 74 mobil mewah. “banyak pak semuanya berjumlah 75 mobil tidak termasuk spedanya.tuturnnya disela-sela krumunan murid yang hendak mau pulang kerumah masing-masing.
Menurut informasi bahwa rombongan presiden akan meninggalkan kabupaten Sumenep sekitar jam 09.30 dan diperkirakan akan melintas di depan LPI An-Najah I pada jam 10.00 pagi(as)





 Foto-foto lainnya.
Bapak Matrawi, S.Pd.I melintas didepan siswi MTs. An-Najah I sambil pegang saku kanan-kiri







Minggu, 24 November 2013

Persatuan Kepala Madrasah Se Kecamatan Pragaan Gelar Rapat Bersama Pengawas di An-Najah I




Para kepala Madrasah  tingkat MTs.-MA sekecamatan Pragaan menggelar rapat bersama Pengawas di Lembaga Pendidikan Islam Yayasan An-Najah I Karduluk Pragaan Sumenep Madura. Rapat gabungan tersebut bertempat diruang masjid At-Taqwa pada hari Sabtu, tanggal 23 Desember 2013 membahas tentang isu-isu terkini menjelang plaksanaan semester satu  tahun pelajaran 2013-2014, disamping itu juga membahas hasil akreditasi dan visitasi sepuluh lembaga yang melaksanakan akreditasi tahun 2013. Hadir dalam acara tersebut Pengawas pendidikan Madrasah bagian wiilayah kecamatan Drs. H. Abd. Wahab, dalam sambutannya wahab menyampaikan beberapa hal mengenai hasil akreditasi dan visitasi sepuluh lembaga yang kena akreditasi tersebut, diantara ada beberapa lembaga yang nilainya mengarah ke nilai B tetapi ada juga yang kemungkinan besar mendapat nilai C menlihat hasil visitasi dari lembaga tersebut, Cuma wahab tidak menjelaskan lembaga mana yang mendapat nilai C dan juga nilai B sambil menunggu hasil pasti dari BAN (Badan Akreditasi Nasional). Di bagian akhir sambutannya wahab juga menyampaikan informasi berharga kepada semua kepala Madrasah terkait dengan pencairan Tunjangan Profesi Pendidi(TPG) yang dalam waktu dekat akan dicairkan dengan catatan semua guru sertifikasi yang sudah memiliki NGR harus segera menyerahkan pemberkasan. Pemberkasan yang dimaksud meliputi; SKMT, Surat pernyataan kinerja materai 6000, surat pernyataan bukan PNS yang juga bermatrai, foto copy RPP yang dilegalisir dll. Berkas pengajuan terakhir masuk ke Kemenag Sumenep Tanggal 26 November 2013. Sementara itu kepala Madrasah al-Hayyan Abd. Wali, S.Pd.I, kepada penulis berita ini menuturkan bahwa informasi ini akan segera di sampaikan kepada semua guru sertifikasi di lembaganya, walaupun dirinya masih belum sertififikasi tetapi sebagai pengelola Lembaga saya harus menyampaikan. tuturnya’(as). 


Selasa, 12 November 2013

Akreditasi di MTs. An-Najah I berlangsung lancar




Program akreditasi yang dilaksanakan oleh Badan Akreditasi Profinsi(BAP)S/M Jawa Timur di MTs. An-Najah I pada hari senin tanggal 11 November 2013 berlansung dengan tertib aman dan lancar, hal ini disampaikan oleh Kepala MTs. An-Najah I Muhammad Imam, S.Ag. usai acara evaluasi visitasi akreditasi di Aula Mini MTs. An-Najah I. Acara tersebut berlangsung dengan tiga sesi.
1.       Pembukaan
Sesi pertama dilaksanakan acara pembukaan yang diisi dengan acara sambutan sekaligus ucapan selamat datang oleh Kepala MTs. An-Najah I, yang kedua sambutan dan pengarahan dari Tim Asesor BAP Jawa Timur yang disampaikan oleh Bapak Suja’I dari Kanwil Kementrian Agama Jawa Timur. Dalam sambutannya suja’i menyampaikan beberapa hal terkait dengan  program Akreditasi yakni pentingnya melaksanakan Trilogi Kementrian Agama yakni  Akreditasi, Sertifikasi dan Standarisasi.
2.       Visitasi
Sesi kedua dilangsungkan acara visitasi, acara ini dilaksanakan di dua tempat yang berbeda. Satu asesor memilih di Kantor MTs. An-Najah I yakni Suja’I untuk melakukan visitasi, sementara Jumhur Rasyid memilih diluar kantor dan langsung memantau kekelas dengan didampingi oleh kepala MTs., Kepala Tata Usaha dan dewan guru. Sementara untuk suja’I di hadapi oleh PKM Kurikulum, PKM Kesiswaan, PKM Sarana, Bendahara dan kepala Laboratorium.
Dari delapan Standar  yang terdiri dari ; Standar Isi, Standar Proses, Standar Kompetensi Lulusan,
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Standar Pengelolaan, Standar Pembiayaan dan Standar Penilaian dengan 169 instrumen pertanyaan dapat di jawab dengan tuntas oleh Kepala MTs., PKM, dan dewan guru dengan menunjukkan bukti fisik kegiatan di MTs. An-Najah I. perangkat bias diunduh di sini:http://www.ban-sm.or.id/content/instrumen-smp-mts
3.       Evaluasi
Sesi ketiga dilanjutkan dengan acara evaluasi yang dilangsungkan di aula Mini MTs. An-Najah I, dalam acara tersebut pihak asesor menyampaikan beberapa hal dari hasil visitasi yang disampaikan oleh Jumhur rasyid. Dalam sambutannya jumhur merasa salut dan bangga terhadap MTs. An-Najah I baik dari  segi sambutan yang luar biasa dari keluaga besar MTs. An-Najah I juga dari Pihak Yayasan, juga dari  segi pengeloaan kelembagaan , kondisi guru dan murid serta sarana dan prasarana di MTs. An-Najah I, sehingga menurut Jumhur pria asli dari Kabupaten Bangkalan ini menyatakan “bahwa kami(asesor BAP) merasa tidak pantas untuk menilai MTs. An-Najah I ini dengan Predikat nilai  C, tetapi untuk memberikan predikat nilai A saya musti harus istikharah dulu sembari tersenyum dengan disambut tepuk tangan yang meriah oleh dawan guru yang hadir di acara evaluasi visitasi tersebut”. 

Setelah melaksanakan Akreditasi dan visitasi di MTs. An-Najah I, Tim Asesor melanjutkan kegiatan yang sama di MTs. Al-Islamiyah Prenduan Sumenep Madura(as).

Selasa, 05 November 2013

Refleksi Bulan Muharram 1435 Hijriyah

Oleh : Asis, Guru biasa di Lembaga Pendidikan Islam Yayasan An-Najah I Karduluk


 Tulisan ini dikutip dari Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MA, salah seorang guru besar di IAIN Surabaya.
Tak terasa kita sudah kembali memasuki Bulan Muharram, tahun baru 1435 hijriyah yang juga bertepatan dengan tanggal 05 November 2013 masehi, kita sudah lebih tua. Mungkin di antara pembaca ada yang dicatat oleh Allah mati setelah pensiun, atau baru saja terdaftar sebagai pegawai pada suatu instansi. “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa. (QS. An-Nahl [16]:70)
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang diberi kesempatan hidup sampai tua, ia tidak lagi sempurna ingatannya, dan terbatas pengetahuannya, seperti  bayi dan anak-anak.  Allah SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian (awalnya). Maka apakah  mereka tidak memikirkan? (QS. Yasin [36]:68).
Rasulullah diberi hidup oleh Allah SWT selama 63 tahun Hijriyah atau 61 tahun menurut hitungan tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, bekal untuk menghadap Allah tentu sudah cukup dengan usia sebanyak itu. Beliau tekun beribadah dan seringkali menangis tersedu-sedu ketika memohon ampunan Allah, padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun, terlalu singkat untuk mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT. Kita berharap diberi usia lebih lama dari usia Nabi. Untuk itu kita wajib berusaha menjaga kesehatan dengan pola hidup sehat sebagaimana dicontohkan Nabi. Ada lagi kiat panjang umur yang diberikan Rasulullah Saw, yaitu menyambung tali persaudaraan. Rasulullah Saw bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya (dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a).
Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur) menjawab bahwa menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah. Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak Allah untuk  merubah atau menghapuskannya. Hanya Allah yang berhak merubah atau menghapus catatanNya.  Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh”) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).
Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah ditetapkan batas umurnya, namun karena ia bersilaturrahim dan banyak berdoa, maka Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemurah merubah ketetapan-Nya dan memberi tambahan umur kepadanya.
Ada juga pendapat lain bahwa umur manusia tidak bisa ditambah atau dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]: 11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan berkah atau kualitasnya. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak ibadah, maka usia yang pendek menandingi usia ratusan tahun orang lain, khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia muslim sehari bisa dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun bisa setara dengan 3.800 tahun jika mengikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke masjid untuk shalat fardhu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan sekali ibadah haji.”(HR Ahmad dan Abu Dawud r.a).
Shalat berjamaah lima kali sehari berarti sama dengan lima kali ibadah haji. Padahal haji hanya bisa dikerjakan setahun sekali. Jika seseorang menjalankan shalat berjamaah setahun penuh tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. (5 x 360 hari = 3.800). Pada bulan suci Ramadlan, juga bisa seseorang yang memperoleh sehari sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun, jika bersungguh-sungguh beribadah pada malam lailatul qadar.
Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali yang lebih dari itu” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekalipun pendek, kita berharap usia kita bernilai ratusan ribu tahun karena berkah kebaikan yang kita lakukan. Inilah usia yang terbaik, sebagaimana hadis Nabi, ”Orang yang terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.)

Sabtu, 02 November 2013

Rapat Persiapan Menjelang Akreditasi MTs. Tahun 2013

Bertempat di aula MTs. An-Najah I lt.II dilangsungkan rapat persiapan menjelang Akreditasi   MTs. An-Najah I tahun 2013. Hadir dalam acara tersebut seluruh  dewan guru MTs. An-Najah I, seluruh PKM. MTs. An-Najah I. Rapat dipimpin langsung oleh Kepala MTs. An-Najah I Muhammad Imam, S.Ag. Menurutnya ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan, selain beberapa instrumen pertanyaan yang harus dijawab disertai dengan bukti fisik, juga harus dipersiapkan foto dokumen antara lain:
  1. Rekomendasi dari Kemenag
  2. Foto Papan Nama Madrasah 
  3. Foto Ruang Kepala
  4. Ruang TU
  5. Foto Perpustakaan
  6. Foto Ruang Kelas
  7. Denah Ruang Kelas
  8. Inventaris Kelas
  9. Identitas siswa lengkap
  10. Ruang UKS
  11. SK Komite
  12. Daftar Hadir Komite
  13. Daftar Siswa tiap Kelas
  14. Ijin Oprasional
  15. Surat2 tanah
  16. Rekening Listrik
  17. Rekening Koran
  18. Lulusan terakhir DNS, DNT, Peserta UN, Denah Peserta dan SK Panitia.
  19. Visi Misi MTs. An-Najah I
  20. dll.  

Jika tidak ada perubahan, pelaksanaan akreditasi untuk MTs. An-Najah I akan diakreditasi pada hari senin, tanggal 11 November 2013. Pada hari tersebut akan ada dua lembaga yang akan diakreditasi oleh tim Asesor masing-masing MTs. An-Najah I dan MTs. Al-Islamiyah Prenduan Sumenep.(as).

Rabu, 30 Oktober 2013

KERJA KERAS MEMBANGUN IMAGE DAN KUALITAS AKADEMIK



Prof. Dr. Abd. A'la, M.Ag.
Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya
Saat ini sedang kunjungan kerja ke University of Sydney

Pada hari Selasa, 3 September 2013 antara pukul 08.30 hingga pukul 09.45 waktu Sydney, saya, pak Zaini dan mas Sigit dengan ditemani Mr. Richard Seymor jalan-jalan mengelilingi kampus Universitas Sydney. Kesempatan ini saya gunakan sambil menunggu penandatanganan MoU antara saya dari IAIN Sunan Ampel dan Vice Chancellor (Rektor) The University of Sydney, Dr. Michael Spence yang akan dilakukan nanti pada pukul 10.00.
Sama dengan kampus-kampus terkenal lain di berbagai negara maju, Universitas Sydney terletak di lahan yang demikian luasnya. Ketika saya tanya kepada Richard mengenai luasnya, dia geleng-geleng kepala. Perkiraannya ratusan hektar. Meskipun sangat luas, keasrian dan kebersihan lingkungan, dan keterpeliharaan gedung-gedung tuanya (ada yang dibangun pada tahun 1880an) demikian tampak terlihat nyata di mana-mana.
Ironisnya, ketika saya sedang jalan-jalan itu, saya melalui telpon dilapori mas Rofiq, Kabag Umum IAIN Sunan Ampel. Ia cerita, katanya, ia ditegur salah seorang pimpinan yang baru dikabari dari Jakarta kalau anggota Komisi VIII DPR-RI yang Jumat lalu kunjungan kerja ke IAIN Sunan Ampel mengeluhkan tentang kampus IAIN Sunan Ampel yang terkesan kumuh, kotor dan tidak terawat. Kesan itu memang sempat saya dengar sendiri dari mereka. Sampai derajat tertentu, kesan para anggota DPR itu memang benar. Ketika  hari Jumat itu saya akan solat Jumat, saya melihat sendiri daun-daun kering yang berserakan di halaman Masjid kampus. Selebihnya ada sisa-sisa pembakaran sampah (juga di halaman masjid) yang kian menambah kesan tidak terawatnya kampus kita. Tentu pemandangan seperti itu ada di sisi-sisi lain di kampus kita. Padahal luas kampus kita tidak lebih dari 10 hektar. Namun kita (bukan tidak mampu, tapi) tidak mau untuk menjaga kebersihannya. Coba bandingkan dengan Universitas Sydney yang demikian luas dan sangat bersih. Kebersihan itu pula merupakan kesan kuat yang saya tangkap ketika saya jalan-jalan di kampus Australian National University (ANU) di Canberra Senin pagi, 2 September sebelum saya menuju Sydney siang itu.
Kekurangbersihan kampus IAIN Surabaya ini merupakan salah satu puncak gunung es dari persoalan kampus kita yang tidak tampak yang sejatinya jauh lebih besar. Realitas ini selain merupakan representasi dari fenomena budaya kita tentang kebersihan yang memang masih jauh dari ajaran Islam, juga muncul dari kurangnya sense of belonging kita (semua civitas akademika, termasuk tenaga pendidikan) atas kampus kita. Sebagai implikasinya, kita kurang memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara, apalagi membesarkan –kualitas dan kuantitas –IAIN Sunan Ampel dari berbagai aspeknya.  Dari sini muncul seabreg persoalan lain, mulai dari kerja asal-asalan, belajar asal-asalan, ngajar asal-asalan, hingga asal-asalan yang lain. Sejalan dengan itu, pikiran kita hanya dipenuhi dengan kepentingan-kepentingan sempit yang justru seringkali bertentangan dengan upaya pengembangan kampus, baik secara kelembagaan maupun secara akademik.
Tentunya fenomena ini tidak bisa dibiarkan terus seperti itu. Sebab selain akan berimplikasi pada kurangnya minat masyarakat untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel (bahkan bukan tidak mungkin, paling banter hanya menerima sisa-sisa sampah dari pendidikan tinggi yang lain), juga Tuhan pasti meminta pertanggung-jawaban terhadap ketidak-becusan kita mengemban amanah. Karena itu, jalan nyaris satu-satunya yang harus kita lakukan adalah dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa IAIN itu milik kita bersama, milik civitas akademika, masyarakat Surabaya, Jawa Timur dan Indonesia. Bahkan, senyatanya institusi ini milik Allah yang dititipkan kepada kita agar dirawat sebaik mungkin.
Sejalan dengan itu, kita perlu menumbuh-kembangkan komitmen untuk membesarkan lembaga melalui pengembangan manajemen yang tidak memungkinkan bagi kita untuk bersikap abai terhadap lembaga. Pada saat yang sama, dengan manajemen itu kita –mau tidak mau –harus bersama-sama mengawal institusi menuju universitas yang berkelas, berkualitas dan berkarakter.
Peluang untuk menjadi universitas semacam itu senyatanya sangat besar dan sudah ada di hadapan mata. Betapa banyak dosen-dosen kita yang berkualitas. Lebih dari itu, setiap tahun mereka diberi kesempatan untuk melakukan pengembangan kualitas akademik mereka melalui workshop dan sejenisnya ke berbagai universitas ternama di luar negeri. Seperti saat ini, ada tiga belas (13) dosen yang sedang dilatih secara serius selama sepuluh hari di ANU untuk melakukan riset dan menulis di jurnal Internasional. Senin, 2 September lalu, saya mengantar mereka ke ANU. Program ini dikomandani dua Profesor terkenal yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat akademis di Indonesia; Prof. James F Fox dan Prof. Greg Fealy. Selain itu juga diperkuat oleh nara sumber seperti kandidat doktor Burhanuddin Muhtadin yang sedang mengambil program Ph.D di ANU. Prof. James mengatur program ini secara sungguh-sungguh, mulai dari hal yang sepele, (seperti keharusan untuk on time, tidak boleh ada pengurangan satu menit pun dari jadwal dan semua peserta harus berbahasa Inggris), hingga yang substansial. Misalnya saja, mereka harus memperoleh data dan referensi melalui open access yang seluas-luasnya ke perpustakaan ANU dan mengolahnya sehingga menjadi karya yang layak diterbitkan untuk jurnal, atau bahkan buku.
Setelah ini, di akhir tahun nanti kita akan melaksanakan short course pengembangan kewirausahaan dengan bekerjasama dengan Universitas Sydney bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Melalui itu mimpi kita bahwa IAIN Sunan Ampel nantinya sebagai premier entrepreneurial university dapat berwujud sesegera mungkin.
Lebih dari itu, melalui MoU yang sudah saya tandatangani itu, IAIN Sunan Ampel memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan exchange student dalam arti yang sebenar-sebenarnya. Saya melihat banyak peluang program yang bisa dikembangkan. Salah satunya adalah dengan menawarkan program Kuliah Kerja dengan pendekatan integrated ABC-PAR kepada mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Sydney. Demikian pula, program penguasaan bahasa dan budaya Indonesia bagi mahasiswa dari Universitas Sydney sangat menarik untuk diperkenalkan.
Terobosan ini selain perlu didukung dengan sistem yang saat ini sudah harus mulai dibangun, juga niscaya ditopang dengan hal-hal yang bagi sebagian kita dianggap remeh-temeh, tapi sejatinya sangat penting, seperti kebersihan. Dari kebersihan itu kita membangun image tentang kampus kita. Jangan ada lagi pandangan sinis terhadap dan menyelepekan kampus kita.   Seirama dengan itu, penguatan kualitas akademik serta pengembangan karakter Universitas Sunan Ampel sebagai kampus penulis, sebagai kampus interpreneral, dan sebagai kampus  pengkajian dan pembumian Islam-Indonesia harus sudah menampakkan diri; saat ini, sekarang juga, dan bukan nanti. Salam dari Sydney©.

Problema Meraih Profesor

Prof Dr Nur Syam, M.Si,
Dirjen Pendis Kemenag RI,
Guru Besar Sosiologi Fak. Dakwah IAIN SA
Di masa lalu, profil profesor atau guru besar identik dengan orang yang sudah tua atau sangat senior, sebab menjadi guru besar atau profesor hanya bisa diraih di kala usia sudah senja. Makanya, sebutan profesor itu identik dengan orang yang usianya senja tersebut. Keadaan itu tentu berangsur berubah, di kala orang menjadi profesor tidak lagi terkait dengan kesenjangan usia akan tetapi karena prestasi akademis yang diperoleh oleh seorang dosen.
Saya menjadi profesor di kala usia saya masih 46 tahun. Saya dikukuhkan sebagai profesor pada 01 Oktober 2005. Tentu masih ada orang yang lebih muda lagi pada waktu yang bersangkutan meraih guru besar. Saya tentu bersyukur sebab bagi saya gelar profesor adalah jabatan tertinggi di dunia akademik yang siapapun dosen pasti menginginkannya.
Beberapa hari yang lalu saya terlibat di dalam proses penilaian kepangkatan akademis para dosen untuk kepentingan kenaikan jabatan profesor. Tentu kehadiran saya dalam kapasitas sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam dan sekaligus sebagai anggota tim penilai para calon guru besar. Tim ini terdiri dari para direktur program studi pasca sarjana, dan para profesor yang memiliki reputasi yang memadai. Tim ini dipimpin oleh Prof. Dr. M. Quraisy Syihab, guru besar Tafsir dari UIN Jakarta.
Menurut saya, ada tiga hal yang akhir-akhir ini menjadi kendala bagi proses kenaikan jabatan guru besar. Di dalam kesempatan itu, maka saya utarakan tentang beberapa kendala kesulitan seorang dosen meraih jabatan guru besar. Pertama tentang linearitas pendidikan. Isu yang menarik dibahas adalah tentang linearitas ini. Di masa lalu, linearitas pendidikan bukanlah menjadi masalah bagi kandidat profesor. Bagi seseorang yang sudah memiliki angka kredit kumulatif yang cukup dan telah memenuhi persyaratan akademis dan administrasi yang memadai, maka baginya memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi guru besar.
Saya melihat bahwa banyak dosen PTAIN yang tidak linear di dalam melanjutkan program studinya. Bisa saja seorang dosen dengan mata kuliah yang diampu adalah ilmu dakwah, dan memang yang berangkulan adalah lulusan fakultas dakwah lalu mengambil program studi strata dua dan tugasnya di bidang sosiologi. Atau ada juga misalnya dosen lulusan program studi pendidikan agama Islam, tetapi melanjutkan program studinya pada program studi psikologi. Tentu saja dari sisi pendidikan dan ijazah yang dimilikinya tidak linear. Jika hal ini ditambah dengan mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang pendidikan Islam, maka akan terdapat kesulitan yang besar untuk meraih guru besar tersebut. Jika seperti ini, maka akan terdapat ribuan doktor yang tidak bisa meraih gelar profesor.
Kedua, Lalu masalah jurnal internasional. Semua akademisi tentu setuju bahwa menulis di jurnal internasional merupakan hal yang sangat penting bagi seorang dosen. Dosen adalah kaum akademisi sehingga ukuran yang tepat adalah mempertanyakan berapa banyak karya akademis yang dihasilkannya. Karya akademis tersebut berupa buku berstandar nasional atau internasional atau karya akademis di jurnal berstandart nasional atau internasional. Semakin banyak karya akademis maka logikanya juga akan semakin berpeluang untuk menjadi profesor. Akan tetapi karya akademis tersebut tentunya juga harus relevan dengan bidang studi yang digelutinya dan juga mata kuliah yang diampunya. Makanya, banyaknya buku dan tulisan di jurnal yang tidak relevan dengan mata kuliah yang diampu akan menjadi penyebab kerumitan meraih jabatan profesor.
Masalah yang dihadapi oleh para calon guru besar adalah terkait kelangkaan jurnal internasional yang terkait dan berkonten ilmu keislaman. Ada banyak jurnal ilmu keislaman misalnya di Timur Tengah, akan tetapi jurnal tersebut tidak termasuk jurnal yang diakui sebagai jurnal internasional. Termasuk juga banyak jurnal di dalam negeri yang mengusung tema ilmu keislaman, akan tetapi juga tidak termasuk di dalam jurnal internasional. Hal ini tentu saja salah satunya disebabkan oleh realitas bahwa yang menerbitkan standart jurnal internasional adalah akademisi barat. Scopus atau ISI, misalnya jelas-jelas tidak mengadaptasi jurnal yang tidak relevan dengan misinya. Kalaupun ada pengakuan tentang jurnal religius studies, maka yang diangkat juga tulisan yang terkait dengan agama-agama lain.
Ketiga, Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah tentang akreditasi program studi strata tiga. Kenyataannya masih terdapat program studi strata tiga yang belum terakreditasi dengan standart akreditasi B. Ada di antaranya yang masih berakreditasi C. Persoalan akreditasi ini juga menjadi masalah bagi program studi strata tiga yang baru. Sebagaimana diketahui bahwa bagi program studi baru, maka hanya akan memperoleh status akreditasi C, sehingga kalau ada mahasiswa program doktor dari program studi baru tentunya yang bersangkutan tidak akan bisa meraih gelar profesor.
Beberapa dilema ini yang kiranya menjadi persoalan bagi para dosen yang akan menjadi profesor. Jika problem ini tidak diselesaikan melalui perumusan kebijakan yang baru dan memihak kepada para dosen, maka dikhawatirkan bahwa akan terdapat masa kesenjangan di mana jumlah profesor akan terus berkurang. Jadi kiranya diperlukan kearifan di dalam memandang masalah ini.

Senin, 28 Oktober 2013

Menjadikan Anak “Bermasalah” Menjadi “Berpotensi”

Oleh : Asis, guru biasa di Lembaga pendidikan Islam Yayasan An-Najah I


Judul tulisan ini dikutip dari seorang tokoh pendidikan bernama Munif Chatif, beliau dalam beberapa tulisannya selalu menyatakan bahwa anak didik memiliki kecerdasan yang beragam. Jika kcerdasan yang beragam tersebut digali secara terus-menerus dengan cara yang tepat dan cepat, maka akan muncullah manusia-manusia cerdas dan unggul. Untuk menggali kecerdasan yang beragam tentu saja diperlukan tenaga pendidik yang profesional. Tenaga pendidik yang profesional tidak cukup hanya mengantongi sertifikat pendidik sebagaimana termaktup dalam Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan Dosen, tetapi lebih dari itu pendidik harus memiliki krakter yang baik, selalu bersedia untuk belajar, selalu teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar dan selalu tertantang untuk meningkatkan kreatifitas anak didik.
Seringkali teman-teman guru ketika duduk santai bersama di ruang istirahat menumpahkan keluh-kesahnya setelah menyampaikan materi pelajaran di kelas masing-masing, bahkan selalu ada cerita menarik untuk didiskusikan. Diantara tema cerita tersebut menyangkut anak didik yang diajar setiap hari di sekolah. Berbagai masalah yang terjadi hampir saja membuat guru frustasi akibat perbuatan anak didik yang tidak diinginkan itu. Sesungguhnya para guru menginginkan anak didiknya menjadi anak yang baik dan cerdas, tetapi tidak sedikit guru akhir-akhir ini yang di meja-hijaukan  gara-gara tidak sanggup menahan  emosi, amarah lantaran anak didiknya selalu berbuat masalah. Disamping kecerdasan anak yang beragam, berbagai masalahpun yang di terjadi pada anak didik juga beragam. Ada yang suka ngomong sendiri pada saat pelajaran berlangsung, ada yang enggan  mengerjakan tugas, selalu meninggalkan kelas pada saat pelajaran berlangsung, sering bolos tanpa keterangan yang jelas, sering bikin kegaduhan pada saat istirahat, tidak patuh terhadap tata tertib serta sederet masalah lain yang tidak bisa disebutkan semuanya.
Segudang masalah yang menimpa anak didik kita tentu saja tidak selamanya merupakan  kesalahan dan  kelalaian anak didik, tetapi perlu diingat barangkali sistem pembelajaran yang diterapkan selama ini tidak sesuai dengan gaya mereka belajar. Sehingga anak menjadi tidak tertarik pada materi pelajaran yang ujung-ujungnya berbuat masalah. Guru dalam hal ini harus selalu membuat sebuah terobosan pembelajaran yang menarik, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran yang awalnya terpusat pada guru seharusnya beralih pada pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa. Pemberian kesempatan yang lebih kepada siswa tentu saja menjadi ketertarikan tersendiri bagi anak didik, karna merasa diperhatikan yang pada akhirnya akan timbul rasa senang, tertarik terhadap materi tersebut.
Mengubah anak bermasalah menjadi berpotensi tentu saja bukan pekerjaan yang mudah, karna hampir tidak ada rumus yang pasti untuk melakukannya. Tetapi ini bisa dilakukan, dengan catatan menurut Chotif Munif guru harus senantiasa bersedia untuk belajar, menyesuaikan gaya mengajar dengan gaya mereka belajar sebagaimana diterapkannya metode ini oleh wali songo ketika menyebarkan ajaran agama islam, yang menyebarkan dengan cara-cara yang santun dan hampir dipastikan untuk memudahkan diterimanya ajaran islam selalu menyesuaikan dan bahkan masuk pada dunia mereka sebagai bagian dari mereka sehingga pada akhirnya semua yang dibawa oleh wali songo bisa diterima.
Sekurang-kurangnya ada tiga syarat dalam mengatasi masalah yang terjadi pada anak didik barang kali bisa diterapkan dalam dunia pendidikan antara lain; guru harus bersikap tenang dalam menyelesaikan masalah, guru harus berbuat penuh kasih sayang pada anak didik dan guru harus memahami anak didik sebagai pribadi yang berkembang.

Rabu, 25 September 2013

Apel Tahunan 2013



Setelah lama tidak menggelar apel tahunan dan pawai ta'aruf,  lembaga pendidikan islam Yayasan An-Najah I kembali akan menggelar apel tahunan dan pawai ta'aruf tahun ini 2013. Acara ini akan dilaksanakan pada tanggal 12 Oktober 2013 sehari sebelum libur Idul Adha. Digelarnya acara ini merupakan hasil keputusan rapat Yayasan An-Najah I pada tanggal 24 September 2013 bertempat di Kediaman Ketua umum Yayasan An-Najah I K. H. Abd. Wasik Bahar yang di hadiri oleh seluruh pengurus Yayasan dan seluruh kepala dan pembantu kepala Madrasah dari tingkat PAUD sampai Madrasah Aliyah. Dalam rapat itu sdr. Asis, S.H.I, M.Pd.I terpilih sebagai ketua pelaksana apel tahunan dan pawai ta'aruf, kemudian sdr. A'idi, S.Pd.I sekretaris panitia dan Fathorrasyid, S.H.I sebagai bendahara. Selain acara apel tahunan yang menjadi keputusan mausyawarah Yayasan, juga penetapan hari libur untuk Idul adha 1434 H. yaitu terhitung mulai tanggal 13 Oktober-18 Oktober 2013. Dalam sambutannya Ketua umum Yayasan An-Najah I berharap agar acara ini dapat terlaksana dengan sukses meriah, efektif dan efisien.  Acara ini selain diikuti oleh seluruh siswa-siswi lembaga pendidikan Islam Yayasan An-Najah I juga akan di meriahkan oleh dua gurup drum band terkenal masing-masing dari kabupaten pamekasan dan kabupaten Sumenep.(as)

Senin, 23 September 2013

KERJA EFEKTIF


Setiap hari kita tenggelam dalam pekerjaan atau kegiatan yang kita lakukan. Namun pernahkah kita mencoba diam sejenak lalu bertanya pada diri kita sendiri: seberapa jauh sebenarnya langkah yang kita buat dalam pekerjaan kita? Seperti apa sebenarnya nilai pekerjaan atau kegiatan yang telah kita lakukan itu?

Pertanyaan semacam ini dapat kita bawa ke wilayah pekerjaan atau kegiatan yang sifatnya perseorangan maupun kelembagaan. Mengajukan pertanyaan ini kepada diri kita sendiri mungkin terasa cukup sederhana. Pertanyaan itu hanya untuk kita, tidak untuk orang lain. Akan tetapi jika terkait dengan lembaga, pertanyaan ini tampak menjadi lebih rumit karena tentu saja pekerjaan atau kegiatan yang kita maksud melibatkan orang dan faktor yang tidak tunggal.

Baik diarahkan kepada diri kita sendiri maupun pada suatu lembaga, pertanyaan ini pada dasarnya bersifat evaluatif dan reflektif. Pertanyaan ini hendak mengukur dan melihat kembali secara lebih cermat titik-titik yang telah kita lalui dalam serangkaian pekerjaan atau kegiatan kita itu. Seperti apakah bentuk titik-titik yang kita bentuk dalam jejak pekerjaan atau kegiatan kita?

Membiasakan diri untuk mengangkat pertanyaan yang sifatnya evaluatif dan reflektif ini secara gamblang dan terus terang sangatlah penting. Di SMA 3 Annuqayah, hal ini saya wujudkan dengan membiasakan menyusun laporan kegiatan kependidikan sekolah setiap akhir tahun pelajaran. Dalam tiga tahun masa kepemimpinan saya, ada tiga laporan yang telah dibuat. Sejak tahun lalu, saya juga berusaha mendorong tradisi membuat laporan ini pada Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan juga salah satu unit kegiatan siswa di SMA 3 Annuqayah, yakni komunitas siswa peduli lingkungan yang bernama Pemulung Sampah Gaul (PSG).

Dalam laporan yang dibuat sekolah ini saya berusaha untuk mengangkat dan menyajikan semua data yang kami miliki terkait dengan seluruh kegiatan sekolah. Sistematikanya mengikuti bidang-bidang utama yang dikerjakan sekolah, yakni bidang kelembagaan, kurikuler, kesiswaan, sarana dan prasarana, dan administrasi.

Kadang data dan butir informasi yang kami cantumkan terasa agak remeh. Misalnya data asal sekolah siswa atau tanggal pelaksanaan rapat yang pernah dilaksanakan di sekolah. Akan tetapi saya yakin bahwa catatan-catatan seperti itu suatu saat akan kelihatan nilai gunanya.

Laporan sekolah yang kami buat saya dorong agar tidak hanya bersifat formal dan sangat singkat. Dalam tiap butir laporan kegiatan, saya mendorong agar ada deskripsi atau narasi sesingkat apa pun tentang kegiatan yang telah dilaksanakan itu. Pada titik ini kami merasa sangat terbantu oleh tradisi kami yang lain yang sejak tahun 2008 mendorong siswa-siswa kami untuk menulis berita kegiatan di sekolah. Tulisan-tulisan siswa itu pada akhirnya dapat menjadi paparan penjelas yang sifatnya naratif dan deskriptif tentang kegiatan-kegiatan sekolah yang dilaksanakan dalam satu tahun pelajaran. Sadar akan pentingnya “laporan” yang dibuat siswa ini, sejak tahun lalu kami melampirkan tulisan-tulisan siswa tersebut dalam laporan pertanggungjawaban kegiatan kependidikan sekolah.

Laporan yang kami susun ini terasa sekali semakin memudahkan pekerjaan kami pada tahun-tahun berikutnya karena dari laporan itulah kami bisa menemukan satu informasi tertentu tentang satu butir kegiatan yang akan berguna saat kami merancang atau melaksanakan kegiatan serupa di tahun berikutnya. Lebih dari itu, kami juga bisa mendapatkan satu gambaran yang cukup utuh dengan melihat semua apa yang telah kami lakukan dalam rentang satu tahun pelajaran.

Minggu, 22 September 2013

KELOMPOK PADUAN SUARA AN-NAJAH I



Salah satu kegiatan ekstra kurikuler yang dilakukan oleh lembaga pendidikan islam Yayasan An-Najah I yang saat ini tetap eksis adalan kelompok paduan suara. Kelompok ini sering mengisi kegiatan-kegiatan kelembagaan untuk menyanyikan mars An-Najah, himne An-Anajah, lagu kebangsaan  serta lagu-lagu bernada islami. Untuk tahun ini karna peminatnya semakin banyak terutama dari kalangan MTs. An-Najah I, maka oleh penaggung jawab yakni Iqbal Febriansyah  kegiatan ini akan dilakukan audisi. Program audisi ini untuk memilih calon kelompok paduan suara yang memiliki kreteria yang bagus  sesuai dengan keinginan pelatihnya.(as)

Jumat, 20 September 2013

Kurikulum 2013 siap dilaksanakan Kemenag pada tahun 2014


Foto
PENDIS - Direktorat Jenderal Pendididikan Islam Kementerian Agama RI mengeluarkan Surat Edaran tentang penerapan kurikulum 2013 yang ditandatangani Dirjen Pendis Prof. Dr. H. Nur Syam, M.Si tanggal 8 Juli 2013 yang isinya siap menerapkan kurikulum 2013 pada tahun ajaran 2014.

Surat Edaran yang ditandatangi Nur Syam tersebut bernomor SE/Dj.I/PP.00/50/2013 tentang implementasi kurikulum 2013 pada madrasah.

Kementerian Agama akan mengimplementasikan Kurikulum 2013 untuk Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) mulai tahun pelajaran 2014/2015, yang akan diterapkan pada tingkat MI di kelas I dan IV, tingkat MTs kelas VII dan tingkat MA kelas X.

Kemenag akan bangun Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendikia ( MAN IC ) di 16 Lokasi


Foto
Pendis - Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Pendis) atas nama Kementerian Agama RI telah menandatangani kerjasama dengan beberapa Pemerintah Daerah terkait pembangunan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia. Selain dengan Pemerintah Daerah kerjasama juga dijalin dengan beberapa kementerian terkait, seperti Kementerian PU, Kemdagri, Kemenkes, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam rangka penggalangan dukungan pembangunan madrasah ini.

Sampai tahun 2013 ini Kementerian Agama baru memiliki tiga MAN IC, yakni di Serpong, Gorontalo, dan Jambi. "Eksistensi MAN IC di 3 lokasi tersebut sudah dirasakan besar manfaatnya oleh masyarakat dan prestasi yang diraih demikian membanggakan," tegas Dirjen Pendis Nur Syam ketika memberikan sambutan pada Pembukaan Rapat Koordinasi Program Pendidikan Menengah Universal sekaligus penandatanganan MoU dan Perjanjian kerjasama Pembangunan dan Penyelenggaraan MAN Insan Cendekia, Jakarta, Selasa (20/08).

Selanjutnya, Menteri Agama Suryadharma Ali juga meneguhkan komitmennya untuk terus memperluas akses pendidikan bermutu bagi siswa-siswa madrasah. Menurutnya, akses pendidikan bermutu merupakan hak fundamental setiap warga negara yang tidak dibatasi oleh status sosial, status ekonomi, suku, etnis, agama, dan gender.

"Salah satu pilar penting dari arah kebijakan dan program Pembangunan Pendidikan Islam Kementerian Agama adalah peningkatan akses dan mutu pendidikan Islam (pesantren dan madrasah)," ungkap Menag. "Peningkatan akses pendidikan berarti peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan pendidikan Islam bagi semua kelompok masyarakat tanpa pandang bulu," tambahnya.