Oleh : Asis, Guru biasa di Lembaga Pendidikan Islam Yayasan An-Najah I Karduluk
Tulisan ini dikutip dari Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, MA, salah seorang guru besar di IAIN Surabaya.
Tak terasa kita sudah kembali memasuki Bulan Muharram, tahun baru
1435 hijriyah yang juga bertepatan dengan tanggal 05 November 2013 masehi, kita sudah
lebih tua. Mungkin di antara pembaca ada yang dicatat oleh Allah mati setelah
pensiun, atau baru saja terdaftar sebagai pegawai pada suatu instansi. “Allah menciptakan
kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada
umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun
yang pernah diketahuinya. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Kuasa. (QS. An-Nahl [16]:70)
Ayat di atas juga menunjukkan bahwa orang yang diberi kesempatan
hidup sampai tua, ia tidak lagi sempurna ingatannya, dan terbatas pengetahuannya,
seperti bayi dan anak-anak. Allah
SWT berfirman, “Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya
Kami kembalikan dia kepada kejadian (awalnya). Maka apakah mereka
tidak memikirkan? (QS.
Yasin [36]:68).
Rasulullah diberi hidup oleh Allah SWT selama 63 tahun Hijriyah
atau 61 tahun menurut hitungan tahun Masehi. Bagi orang sesuci beliau, bekal
untuk menghadap Allah tentu sudah cukup dengan usia sebanyak itu. Beliau tekun
beribadah dan seringkali menangis tersedu-sedu ketika memohon ampunan Allah,
padahal ia tidak punya dosa. Bagi kita, usia 61 tahun, terlalu singkat untuk
mengumpulkan bekal menghadap Allah SWT. Kita berharap diberi usia lebih lama
dari usia Nabi. Untuk itu kita wajib berusaha menjaga kesehatan dengan pola
hidup sehat sebagaimana dicontohkan Nabi. Ada lagi kiat panjang umur yang
diberikan Rasulullah Saw, yaitu menyambung tali persaudaraan. Rasulullah Saw
bersabda,”Barangsiapa ingin dimudahkan rizkinya dan ditunda ajalnya
(dipanjangkan usianya) hendaklah ia menyambung tali persaudaraan” (HR. Bukhari dari Anas bin Malik r.a).
Berdasar hadis di atas, timbul pertanyaan: bisakah umur manusia
diperpanjang? Muhammad Ibrahim An-Nu’aim dalam bukunya Kaifa Tuthilu
Umrakal Intajiy (Misteri Panjang Umur)
menjawab bahwa menambah jatah umur manusia bukanlah hal yang sulit bagi Allah.
Sekalipun umur manusia telah ditulis di sisi-Nya, namun adalah hak mutlak Allah
untuk merubah atau menghapuskannya. Hanya Allah yang berhak merubah atau
menghapus catatanNya. Nabi dan Malaikat tidak bisa melakukannya. “Allah menghapus apa yang
Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah
terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh”) (QS.Ar-Ra’d [13]:39).
Dengan kekuasaan mutlak Allah itu, bisa saja seseorang telah
ditetapkan batas umurnya, namun karena ia bersilaturrahim dan banyak berdoa,
maka Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pemurah merubah ketetapan-Nya dan memberi
tambahan umur kepadanya.
Ada juga pendapat lain bahwa umur manusia tidak bisa ditambah atau
dikurangi, karena sudah ditetapkan Allah sebelum kelahirannya (QS. Fathir [35]:
11 dan Qs Al A’raf [7]:34). Kita hanya bisa meminta tambahan berkah atau
kualitasnya. Artinya hitungan usia kita memang pendek, namun karena banyak
ibadah, maka usia yang pendek menandingi usia ratusan tahun orang lain,
khususnya umat sebelum nabi Muhammad SAW. Misalnya, usia muslim sehari bisa
dinilai Allah setara dengan lima tahun. Setahun bisa setara dengan 3.800 tahun
jika mengikuti petunjuk Rasulullah SAW berikut, “Barangsiapa berjalan ke
masjid untuk shalat fardhu secara berjamaah, maka shalatnya setara dengan
sekali ibadah haji.”(HR Ahmad dan Abu Dawud
r.a).
Shalat berjamaah lima
kali sehari berarti sama dengan lima kali ibadah haji. Padahal haji hanya bisa
dikerjakan setahun sekali. Jika seseorang menjalankan shalat berjamaah setahun
penuh tanpa absen, maka usia setahun itu sama dengan 3.800 tahun. (5 x 360 hari
= 3.800). Pada bulan suci Ramadlan, juga bisa seseorang yang memperoleh sehari
sama dengan 1000 bulan atau 83 tahun, jika bersungguh-sungguh beribadah pada
malam lailatul
qadar.
Menurut Nabi SAW, “Umur umatku antara enam puluh sampai tujuh puluh
tahun, dan sedikit sekali yang lebih dari itu” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah r.a). Sekalipun
pendek, kita berharap usia kita bernilai ratusan ribu tahun karena berkah
kebaikan yang kita lakukan. Inilah usia yang terbaik, sebagaimana hadis Nabi, ”Orang yang
terbaik adalah yang panjang umurnya dan baik perbuatannya” (HR Ahmad dari Abu Bakrah r.a.)