Rabu, 30 Oktober 2013

KERJA KERAS MEMBANGUN IMAGE DAN KUALITAS AKADEMIK



Prof. Dr. Abd. A'la, M.Ag.
Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya
Saat ini sedang kunjungan kerja ke University of Sydney

Pada hari Selasa, 3 September 2013 antara pukul 08.30 hingga pukul 09.45 waktu Sydney, saya, pak Zaini dan mas Sigit dengan ditemani Mr. Richard Seymor jalan-jalan mengelilingi kampus Universitas Sydney. Kesempatan ini saya gunakan sambil menunggu penandatanganan MoU antara saya dari IAIN Sunan Ampel dan Vice Chancellor (Rektor) The University of Sydney, Dr. Michael Spence yang akan dilakukan nanti pada pukul 10.00.
Sama dengan kampus-kampus terkenal lain di berbagai negara maju, Universitas Sydney terletak di lahan yang demikian luasnya. Ketika saya tanya kepada Richard mengenai luasnya, dia geleng-geleng kepala. Perkiraannya ratusan hektar. Meskipun sangat luas, keasrian dan kebersihan lingkungan, dan keterpeliharaan gedung-gedung tuanya (ada yang dibangun pada tahun 1880an) demikian tampak terlihat nyata di mana-mana.
Ironisnya, ketika saya sedang jalan-jalan itu, saya melalui telpon dilapori mas Rofiq, Kabag Umum IAIN Sunan Ampel. Ia cerita, katanya, ia ditegur salah seorang pimpinan yang baru dikabari dari Jakarta kalau anggota Komisi VIII DPR-RI yang Jumat lalu kunjungan kerja ke IAIN Sunan Ampel mengeluhkan tentang kampus IAIN Sunan Ampel yang terkesan kumuh, kotor dan tidak terawat. Kesan itu memang sempat saya dengar sendiri dari mereka. Sampai derajat tertentu, kesan para anggota DPR itu memang benar. Ketika  hari Jumat itu saya akan solat Jumat, saya melihat sendiri daun-daun kering yang berserakan di halaman Masjid kampus. Selebihnya ada sisa-sisa pembakaran sampah (juga di halaman masjid) yang kian menambah kesan tidak terawatnya kampus kita. Tentu pemandangan seperti itu ada di sisi-sisi lain di kampus kita. Padahal luas kampus kita tidak lebih dari 10 hektar. Namun kita (bukan tidak mampu, tapi) tidak mau untuk menjaga kebersihannya. Coba bandingkan dengan Universitas Sydney yang demikian luas dan sangat bersih. Kebersihan itu pula merupakan kesan kuat yang saya tangkap ketika saya jalan-jalan di kampus Australian National University (ANU) di Canberra Senin pagi, 2 September sebelum saya menuju Sydney siang itu.
Kekurangbersihan kampus IAIN Surabaya ini merupakan salah satu puncak gunung es dari persoalan kampus kita yang tidak tampak yang sejatinya jauh lebih besar. Realitas ini selain merupakan representasi dari fenomena budaya kita tentang kebersihan yang memang masih jauh dari ajaran Islam, juga muncul dari kurangnya sense of belonging kita (semua civitas akademika, termasuk tenaga pendidikan) atas kampus kita. Sebagai implikasinya, kita kurang memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara, apalagi membesarkan –kualitas dan kuantitas –IAIN Sunan Ampel dari berbagai aspeknya.  Dari sini muncul seabreg persoalan lain, mulai dari kerja asal-asalan, belajar asal-asalan, ngajar asal-asalan, hingga asal-asalan yang lain. Sejalan dengan itu, pikiran kita hanya dipenuhi dengan kepentingan-kepentingan sempit yang justru seringkali bertentangan dengan upaya pengembangan kampus, baik secara kelembagaan maupun secara akademik.
Tentunya fenomena ini tidak bisa dibiarkan terus seperti itu. Sebab selain akan berimplikasi pada kurangnya minat masyarakat untuk kuliah di IAIN Sunan Ampel (bahkan bukan tidak mungkin, paling banter hanya menerima sisa-sisa sampah dari pendidikan tinggi yang lain), juga Tuhan pasti meminta pertanggung-jawaban terhadap ketidak-becusan kita mengemban amanah. Karena itu, jalan nyaris satu-satunya yang harus kita lakukan adalah dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa IAIN itu milik kita bersama, milik civitas akademika, masyarakat Surabaya, Jawa Timur dan Indonesia. Bahkan, senyatanya institusi ini milik Allah yang dititipkan kepada kita agar dirawat sebaik mungkin.
Sejalan dengan itu, kita perlu menumbuh-kembangkan komitmen untuk membesarkan lembaga melalui pengembangan manajemen yang tidak memungkinkan bagi kita untuk bersikap abai terhadap lembaga. Pada saat yang sama, dengan manajemen itu kita –mau tidak mau –harus bersama-sama mengawal institusi menuju universitas yang berkelas, berkualitas dan berkarakter.
Peluang untuk menjadi universitas semacam itu senyatanya sangat besar dan sudah ada di hadapan mata. Betapa banyak dosen-dosen kita yang berkualitas. Lebih dari itu, setiap tahun mereka diberi kesempatan untuk melakukan pengembangan kualitas akademik mereka melalui workshop dan sejenisnya ke berbagai universitas ternama di luar negeri. Seperti saat ini, ada tiga belas (13) dosen yang sedang dilatih secara serius selama sepuluh hari di ANU untuk melakukan riset dan menulis di jurnal Internasional. Senin, 2 September lalu, saya mengantar mereka ke ANU. Program ini dikomandani dua Profesor terkenal yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat akademis di Indonesia; Prof. James F Fox dan Prof. Greg Fealy. Selain itu juga diperkuat oleh nara sumber seperti kandidat doktor Burhanuddin Muhtadin yang sedang mengambil program Ph.D di ANU. Prof. James mengatur program ini secara sungguh-sungguh, mulai dari hal yang sepele, (seperti keharusan untuk on time, tidak boleh ada pengurangan satu menit pun dari jadwal dan semua peserta harus berbahasa Inggris), hingga yang substansial. Misalnya saja, mereka harus memperoleh data dan referensi melalui open access yang seluas-luasnya ke perpustakaan ANU dan mengolahnya sehingga menjadi karya yang layak diterbitkan untuk jurnal, atau bahkan buku.
Setelah ini, di akhir tahun nanti kita akan melaksanakan short course pengembangan kewirausahaan dengan bekerjasama dengan Universitas Sydney bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Melalui itu mimpi kita bahwa IAIN Sunan Ampel nantinya sebagai premier entrepreneurial university dapat berwujud sesegera mungkin.
Lebih dari itu, melalui MoU yang sudah saya tandatangani itu, IAIN Sunan Ampel memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan exchange student dalam arti yang sebenar-sebenarnya. Saya melihat banyak peluang program yang bisa dikembangkan. Salah satunya adalah dengan menawarkan program Kuliah Kerja dengan pendekatan integrated ABC-PAR kepada mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Sydney. Demikian pula, program penguasaan bahasa dan budaya Indonesia bagi mahasiswa dari Universitas Sydney sangat menarik untuk diperkenalkan.
Terobosan ini selain perlu didukung dengan sistem yang saat ini sudah harus mulai dibangun, juga niscaya ditopang dengan hal-hal yang bagi sebagian kita dianggap remeh-temeh, tapi sejatinya sangat penting, seperti kebersihan. Dari kebersihan itu kita membangun image tentang kampus kita. Jangan ada lagi pandangan sinis terhadap dan menyelepekan kampus kita.   Seirama dengan itu, penguatan kualitas akademik serta pengembangan karakter Universitas Sunan Ampel sebagai kampus penulis, sebagai kampus interpreneral, dan sebagai kampus  pengkajian dan pembumian Islam-Indonesia harus sudah menampakkan diri; saat ini, sekarang juga, dan bukan nanti. Salam dari Sydney©.

Problema Meraih Profesor

Prof Dr Nur Syam, M.Si,
Dirjen Pendis Kemenag RI,
Guru Besar Sosiologi Fak. Dakwah IAIN SA
Di masa lalu, profil profesor atau guru besar identik dengan orang yang sudah tua atau sangat senior, sebab menjadi guru besar atau profesor hanya bisa diraih di kala usia sudah senja. Makanya, sebutan profesor itu identik dengan orang yang usianya senja tersebut. Keadaan itu tentu berangsur berubah, di kala orang menjadi profesor tidak lagi terkait dengan kesenjangan usia akan tetapi karena prestasi akademis yang diperoleh oleh seorang dosen.
Saya menjadi profesor di kala usia saya masih 46 tahun. Saya dikukuhkan sebagai profesor pada 01 Oktober 2005. Tentu masih ada orang yang lebih muda lagi pada waktu yang bersangkutan meraih guru besar. Saya tentu bersyukur sebab bagi saya gelar profesor adalah jabatan tertinggi di dunia akademik yang siapapun dosen pasti menginginkannya.
Beberapa hari yang lalu saya terlibat di dalam proses penilaian kepangkatan akademis para dosen untuk kepentingan kenaikan jabatan profesor. Tentu kehadiran saya dalam kapasitas sebagai Direktur Jenderal Pendidikan Islam dan sekaligus sebagai anggota tim penilai para calon guru besar. Tim ini terdiri dari para direktur program studi pasca sarjana, dan para profesor yang memiliki reputasi yang memadai. Tim ini dipimpin oleh Prof. Dr. M. Quraisy Syihab, guru besar Tafsir dari UIN Jakarta.
Menurut saya, ada tiga hal yang akhir-akhir ini menjadi kendala bagi proses kenaikan jabatan guru besar. Di dalam kesempatan itu, maka saya utarakan tentang beberapa kendala kesulitan seorang dosen meraih jabatan guru besar. Pertama tentang linearitas pendidikan. Isu yang menarik dibahas adalah tentang linearitas ini. Di masa lalu, linearitas pendidikan bukanlah menjadi masalah bagi kandidat profesor. Bagi seseorang yang sudah memiliki angka kredit kumulatif yang cukup dan telah memenuhi persyaratan akademis dan administrasi yang memadai, maka baginya memiliki kesempatan yang besar untuk menjadi guru besar.
Saya melihat bahwa banyak dosen PTAIN yang tidak linear di dalam melanjutkan program studinya. Bisa saja seorang dosen dengan mata kuliah yang diampu adalah ilmu dakwah, dan memang yang berangkulan adalah lulusan fakultas dakwah lalu mengambil program studi strata dua dan tugasnya di bidang sosiologi. Atau ada juga misalnya dosen lulusan program studi pendidikan agama Islam, tetapi melanjutkan program studinya pada program studi psikologi. Tentu saja dari sisi pendidikan dan ijazah yang dimilikinya tidak linear. Jika hal ini ditambah dengan mata kuliah yang diasuhnya adalah tentang pendidikan Islam, maka akan terdapat kesulitan yang besar untuk meraih guru besar tersebut. Jika seperti ini, maka akan terdapat ribuan doktor yang tidak bisa meraih gelar profesor.
Kedua, Lalu masalah jurnal internasional. Semua akademisi tentu setuju bahwa menulis di jurnal internasional merupakan hal yang sangat penting bagi seorang dosen. Dosen adalah kaum akademisi sehingga ukuran yang tepat adalah mempertanyakan berapa banyak karya akademis yang dihasilkannya. Karya akademis tersebut berupa buku berstandar nasional atau internasional atau karya akademis di jurnal berstandart nasional atau internasional. Semakin banyak karya akademis maka logikanya juga akan semakin berpeluang untuk menjadi profesor. Akan tetapi karya akademis tersebut tentunya juga harus relevan dengan bidang studi yang digelutinya dan juga mata kuliah yang diampunya. Makanya, banyaknya buku dan tulisan di jurnal yang tidak relevan dengan mata kuliah yang diampu akan menjadi penyebab kerumitan meraih jabatan profesor.
Masalah yang dihadapi oleh para calon guru besar adalah terkait kelangkaan jurnal internasional yang terkait dan berkonten ilmu keislaman. Ada banyak jurnal ilmu keislaman misalnya di Timur Tengah, akan tetapi jurnal tersebut tidak termasuk jurnal yang diakui sebagai jurnal internasional. Termasuk juga banyak jurnal di dalam negeri yang mengusung tema ilmu keislaman, akan tetapi juga tidak termasuk di dalam jurnal internasional. Hal ini tentu saja salah satunya disebabkan oleh realitas bahwa yang menerbitkan standart jurnal internasional adalah akademisi barat. Scopus atau ISI, misalnya jelas-jelas tidak mengadaptasi jurnal yang tidak relevan dengan misinya. Kalaupun ada pengakuan tentang jurnal religius studies, maka yang diangkat juga tulisan yang terkait dengan agama-agama lain.
Ketiga, Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah tentang akreditasi program studi strata tiga. Kenyataannya masih terdapat program studi strata tiga yang belum terakreditasi dengan standart akreditasi B. Ada di antaranya yang masih berakreditasi C. Persoalan akreditasi ini juga menjadi masalah bagi program studi strata tiga yang baru. Sebagaimana diketahui bahwa bagi program studi baru, maka hanya akan memperoleh status akreditasi C, sehingga kalau ada mahasiswa program doktor dari program studi baru tentunya yang bersangkutan tidak akan bisa meraih gelar profesor.
Beberapa dilema ini yang kiranya menjadi persoalan bagi para dosen yang akan menjadi profesor. Jika problem ini tidak diselesaikan melalui perumusan kebijakan yang baru dan memihak kepada para dosen, maka dikhawatirkan bahwa akan terdapat masa kesenjangan di mana jumlah profesor akan terus berkurang. Jadi kiranya diperlukan kearifan di dalam memandang masalah ini.

Senin, 28 Oktober 2013

Menjadikan Anak “Bermasalah” Menjadi “Berpotensi”

Oleh : Asis, guru biasa di Lembaga pendidikan Islam Yayasan An-Najah I


Judul tulisan ini dikutip dari seorang tokoh pendidikan bernama Munif Chatif, beliau dalam beberapa tulisannya selalu menyatakan bahwa anak didik memiliki kecerdasan yang beragam. Jika kcerdasan yang beragam tersebut digali secara terus-menerus dengan cara yang tepat dan cepat, maka akan muncullah manusia-manusia cerdas dan unggul. Untuk menggali kecerdasan yang beragam tentu saja diperlukan tenaga pendidik yang profesional. Tenaga pendidik yang profesional tidak cukup hanya mengantongi sertifikat pendidik sebagaimana termaktup dalam Undang-undang no 14 tahun 2005 tentang guru dan Dosen, tetapi lebih dari itu pendidik harus memiliki krakter yang baik, selalu bersedia untuk belajar, selalu teratur membuat rencana pembelajaran sebelum mengajar dan selalu tertantang untuk meningkatkan kreatifitas anak didik.
Seringkali teman-teman guru ketika duduk santai bersama di ruang istirahat menumpahkan keluh-kesahnya setelah menyampaikan materi pelajaran di kelas masing-masing, bahkan selalu ada cerita menarik untuk didiskusikan. Diantara tema cerita tersebut menyangkut anak didik yang diajar setiap hari di sekolah. Berbagai masalah yang terjadi hampir saja membuat guru frustasi akibat perbuatan anak didik yang tidak diinginkan itu. Sesungguhnya para guru menginginkan anak didiknya menjadi anak yang baik dan cerdas, tetapi tidak sedikit guru akhir-akhir ini yang di meja-hijaukan  gara-gara tidak sanggup menahan  emosi, amarah lantaran anak didiknya selalu berbuat masalah. Disamping kecerdasan anak yang beragam, berbagai masalahpun yang di terjadi pada anak didik juga beragam. Ada yang suka ngomong sendiri pada saat pelajaran berlangsung, ada yang enggan  mengerjakan tugas, selalu meninggalkan kelas pada saat pelajaran berlangsung, sering bolos tanpa keterangan yang jelas, sering bikin kegaduhan pada saat istirahat, tidak patuh terhadap tata tertib serta sederet masalah lain yang tidak bisa disebutkan semuanya.
Segudang masalah yang menimpa anak didik kita tentu saja tidak selamanya merupakan  kesalahan dan  kelalaian anak didik, tetapi perlu diingat barangkali sistem pembelajaran yang diterapkan selama ini tidak sesuai dengan gaya mereka belajar. Sehingga anak menjadi tidak tertarik pada materi pelajaran yang ujung-ujungnya berbuat masalah. Guru dalam hal ini harus selalu membuat sebuah terobosan pembelajaran yang menarik, efektif dan menyenangkan. Pembelajaran yang awalnya terpusat pada guru seharusnya beralih pada pemberian kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa. Pemberian kesempatan yang lebih kepada siswa tentu saja menjadi ketertarikan tersendiri bagi anak didik, karna merasa diperhatikan yang pada akhirnya akan timbul rasa senang, tertarik terhadap materi tersebut.
Mengubah anak bermasalah menjadi berpotensi tentu saja bukan pekerjaan yang mudah, karna hampir tidak ada rumus yang pasti untuk melakukannya. Tetapi ini bisa dilakukan, dengan catatan menurut Chotif Munif guru harus senantiasa bersedia untuk belajar, menyesuaikan gaya mengajar dengan gaya mereka belajar sebagaimana diterapkannya metode ini oleh wali songo ketika menyebarkan ajaran agama islam, yang menyebarkan dengan cara-cara yang santun dan hampir dipastikan untuk memudahkan diterimanya ajaran islam selalu menyesuaikan dan bahkan masuk pada dunia mereka sebagai bagian dari mereka sehingga pada akhirnya semua yang dibawa oleh wali songo bisa diterima.
Sekurang-kurangnya ada tiga syarat dalam mengatasi masalah yang terjadi pada anak didik barang kali bisa diterapkan dalam dunia pendidikan antara lain; guru harus bersikap tenang dalam menyelesaikan masalah, guru harus berbuat penuh kasih sayang pada anak didik dan guru harus memahami anak didik sebagai pribadi yang berkembang.