Prof. Dr. Abd. A'la, M.Ag.
Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya
Saat ini sedang kunjungan kerja ke University of Sydney
Pada
hari Selasa, 3 September 2013 antara pukul 08.30 hingga pukul 09.45
waktu Sydney, saya, pak Zaini dan mas Sigit dengan ditemani Mr. Richard
Seymor jalan-jalan mengelilingi kampus Universitas Sydney. Kesempatan
ini saya gunakan sambil menunggu penandatanganan MoU antara saya dari
IAIN Sunan Ampel dan Vice Chancellor (Rektor) The University of Sydney, Dr. Michael Spence yang akan dilakukan nanti pada pukul 10.00.
Sama
dengan kampus-kampus terkenal lain di berbagai negara maju, Universitas
Sydney terletak di lahan yang demikian luasnya. Ketika saya tanya
kepada Richard mengenai luasnya, dia geleng-geleng kepala. Perkiraannya
ratusan hektar. Meskipun sangat luas, keasrian dan kebersihan
lingkungan, dan keterpeliharaan gedung-gedung tuanya (ada yang dibangun
pada tahun 1880an) demikian tampak terlihat nyata di mana-mana.
Ironisnya,
ketika saya sedang jalan-jalan itu, saya melalui telpon dilapori mas
Rofiq, Kabag Umum IAIN Sunan Ampel. Ia cerita, katanya, ia ditegur salah
seorang pimpinan yang baru dikabari dari Jakarta kalau anggota Komisi
VIII DPR-RI yang Jumat lalu kunjungan kerja ke IAIN Sunan Ampel
mengeluhkan tentang kampus IAIN Sunan Ampel yang terkesan kumuh, kotor
dan tidak terawat. Kesan itu memang sempat saya dengar sendiri dari
mereka. Sampai derajat tertentu, kesan para anggota DPR itu memang
benar. Ketika hari Jumat itu saya akan solat Jumat, saya melihat
sendiri daun-daun kering yang berserakan di halaman Masjid kampus.
Selebihnya ada sisa-sisa pembakaran sampah (juga di halaman masjid) yang
kian menambah kesan tidak terawatnya kampus kita. Tentu pemandangan
seperti itu ada di sisi-sisi lain di kampus kita. Padahal luas kampus
kita tidak lebih dari 10 hektar. Namun kita (bukan tidak mampu, tapi)
tidak mau untuk menjaga kebersihannya. Coba bandingkan dengan
Universitas Sydney yang demikian luas dan sangat bersih. Kebersihan itu
pula merupakan kesan kuat yang saya tangkap ketika saya jalan-jalan di
kampus Australian National University (ANU) di Canberra Senin pagi, 2
September sebelum saya menuju Sydney siang itu.
Kekurangbersihan
kampus IAIN Surabaya ini merupakan salah satu puncak gunung es dari
persoalan kampus kita yang tidak tampak yang sejatinya jauh lebih besar.
Realitas ini selain merupakan representasi dari fenomena budaya kita
tentang kebersihan yang memang masih jauh dari ajaran Islam, juga muncul
dari kurangnya sense of belonging kita (semua civitas
akademika, termasuk tenaga pendidikan) atas kampus kita. Sebagai
implikasinya, kita kurang memiliki rasa tanggung jawab untuk memelihara,
apalagi membesarkan –kualitas dan kuantitas –IAIN Sunan Ampel dari
berbagai aspeknya. Dari sini muncul seabreg persoalan lain,
mulai dari kerja asal-asalan, belajar asal-asalan, ngajar asal-asalan,
hingga asal-asalan yang lain. Sejalan dengan itu, pikiran kita hanya
dipenuhi dengan kepentingan-kepentingan sempit yang justru seringkali
bertentangan dengan upaya pengembangan kampus, baik secara kelembagaan
maupun secara akademik.
Tentunya
fenomena ini tidak bisa dibiarkan terus seperti itu. Sebab selain akan
berimplikasi pada kurangnya minat masyarakat untuk kuliah di IAIN Sunan
Ampel (bahkan bukan tidak mungkin, paling banter hanya menerima
sisa-sisa sampah dari pendidikan tinggi yang lain), juga Tuhan pasti
meminta pertanggung-jawaban terhadap ketidak-becusan kita mengemban
amanah. Karena itu, jalan nyaris satu-satunya yang harus kita lakukan
adalah dengan menumbuhkan kesadaran dalam diri kita bahwa IAIN itu milik
kita bersama, milik civitas akademika, masyarakat Surabaya, Jawa Timur
dan Indonesia. Bahkan, senyatanya institusi ini milik Allah yang
dititipkan kepada kita agar dirawat sebaik mungkin.
Sejalan
dengan itu, kita perlu menumbuh-kembangkan komitmen untuk membesarkan
lembaga melalui pengembangan manajemen yang tidak memungkinkan bagi kita
untuk bersikap abai terhadap lembaga. Pada saat yang sama, dengan
manajemen itu kita –mau tidak mau –harus bersama-sama mengawal institusi
menuju universitas yang berkelas, berkualitas dan berkarakter.
Peluang
untuk menjadi universitas semacam itu senyatanya sangat besar dan sudah
ada di hadapan mata. Betapa banyak dosen-dosen kita yang berkualitas.
Lebih dari itu, setiap tahun mereka diberi kesempatan untuk melakukan
pengembangan kualitas akademik mereka melalui workshop dan
sejenisnya ke berbagai universitas ternama di luar negeri. Seperti saat
ini, ada tiga belas (13) dosen yang sedang dilatih secara serius selama
sepuluh hari di ANU untuk melakukan riset dan menulis di jurnal
Internasional. Senin, 2 September lalu, saya mengantar mereka ke ANU.
Program ini dikomandani dua Profesor terkenal yang sudah tidak asing
lagi bagi masyarakat akademis di Indonesia; Prof. James F Fox dan Prof.
Greg Fealy. Selain itu juga diperkuat oleh nara sumber seperti kandidat
doktor Burhanuddin Muhtadin yang sedang mengambil program Ph.D di ANU.
Prof. James mengatur program ini secara sungguh-sungguh, mulai dari hal
yang sepele, (seperti keharusan untuk on time, tidak boleh ada
pengurangan satu menit pun dari jadwal dan semua peserta harus berbahasa
Inggris), hingga yang substansial. Misalnya saja, mereka harus
memperoleh data dan referensi melalui open access yang
seluas-luasnya ke perpustakaan ANU dan mengolahnya sehingga menjadi
karya yang layak diterbitkan untuk jurnal, atau bahkan buku.
Setelah ini, di akhir tahun nanti kita akan melaksanakan short course
pengembangan kewirausahaan dengan bekerjasama dengan Universitas Sydney
bagi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan. Melalui itu mimpi kita
bahwa IAIN Sunan Ampel nantinya sebagai premier entrepreneurial university dapat berwujud sesegera mungkin.
Lebih
dari itu, melalui MoU yang sudah saya tandatangani itu, IAIN Sunan
Ampel memiliki kesempatan yang luas untuk melakukan exchange student
dalam arti yang sebenar-sebenarnya. Saya melihat banyak peluang program
yang bisa dikembangkan. Salah satunya adalah dengan menawarkan program
Kuliah Kerja dengan pendekatan integrated ABC-PAR kepada
mahasiswa-mahasiswa dari Universitas Sydney. Demikian pula, program
penguasaan bahasa dan budaya Indonesia bagi mahasiswa dari Universitas
Sydney sangat menarik untuk diperkenalkan.
Terobosan ini selain perlu didukung dengan sistem yang saat ini sudah
harus mulai dibangun, juga niscaya ditopang dengan hal-hal yang bagi
sebagian kita dianggap remeh-temeh, tapi sejatinya sangat penting, seperti kebersihan. Dari kebersihan itu kita membangun image
tentang kampus kita. Jangan ada lagi pandangan sinis terhadap dan
menyelepekan kampus kita. Seirama dengan itu, penguatan kualitas
akademik serta pengembangan karakter Universitas Sunan Ampel sebagai
kampus penulis, sebagai kampus interpreneral, dan sebagai kampus
pengkajian dan pembumian Islam-Indonesia harus sudah menampakkan diri;
saat ini, sekarang juga, dan bukan nanti. Salam dari Sydney©.












